Blog

DEMOKRASI KITA

Bebas memilih, bebas mengeluarkan pendapat, bebas berperan dalam politik, bahkan bebas dalam melakukan kehendak-kehendak lain yang diinginkan. Gambaran demokrasi yang terjadi di masyarakat belakangan ini. Dengan alasan demokrasi seolah semua hal dapat dilakukan sebebas mungkin sesuai kehendak pribadi, terutama dalam berpendapat. Demokrasi atau egoisme kah yang selama ini masyarakat terapkan?
Demokrasi
Sumber: scienceabc.com

Kata demokrasi berasal dari Demos berarti manusia, kratos berarti aturan, menggabungkan dua unsur ini untuk menciptakan kata demokrasi yang berarti aturan oleh manusia. Menurut Alex Woolf , pada hakikatnya ini adalah taraf tertinggi dalam sebuah sistem, dimana manusia atau masyarakat memiliki kendali penuh terhadap wilayahnya.

Woolf juga mengatakan idealnya tiap orang berperan dalam tiap pengambilan keputusan hukum dan kebijakan di negaranya. Menghadiri perdebatan sebuah masalah, kemudian memilih berdasarkan opini masing-masing. Sebuah bentuk dari demokrasi yang sebenarnya atau lebih dikenal sebagai demokrasi langsung. Demokrasi langsung bisa berjalan dengan baik dalam kelompok kecil seperti grup, perkumpulan, atau bahkan negara kecil.

Kini demokrasi sudah tidak lagi berjalan secara baik, banyak orang menyalahartikan memilih perwakilan dengan memaksakan perwakilan pilihan mereka. Tiap orang merasa dirinya perlu bahkan penting untuk didengar hingga perselisihan dan keributan kerap terjadi. Perdebatan berujung per-dendam-an tak kunjung akhir hingga masalah utamanya menjadi bias.

Pada periode pemilihan presiden 2014 yang lalu terjadi sebuah fenomena yang bisa menjadi pembelajaran bagi kita yang ingin kenal dan paham dengan proses demokrasi. Dua kandidat yang dianggap sebagai perwakilan kelompok masyarakat didukung ramai-ramai seolah mereka jawaban dari kegelisahan panjang selama ini. Kegelisahan atas orde kekuasaan dua periode yang tidak jelas arahnya.
Masyarakat berbondong-bondong bepartisipasi dalam pesta demokrasi yang seolah-olah terbesar dalam sejarah. Kegiatan-kegiatan diskusi digelar di berbagai tempat dengan tujuan saling memahami program yang akan diusung. Diskusi yang fungsi awalnya dimaksudkan untuk musyawarah menjadi disfungsi kemudian terjadi saling cemberut, saling sikut lalu saling ribut. Merasa pilihannya paling benar hingga tega memutus hubungan dengan orang yang berbeda pilihan. Putus hubungan persahabatan, putus hubungan kerja, bahkan hingga putus hubungan darah terjadi akibat persaingan dengan label demokrasi.

Demokrasi yang seharusnya menjadi sistem untuk menyatukan masyarakat beralih menjadi memecah. Setelah keributan di masyarakat saat pemilihan presiden, terjadi pula keributan di DPR. Anggota legislatif yang dipilih sebagai wakil dalam pengambilan keputusan bersama pun ikut ribut hingga terbelah menjadi dua, DPR dan DPR tandingan versi Koalisi Merah Putih dari perwakilan kelompok kandidat tidak terpilih.

Coreng besar demokrasi telah terjadi di Indonesia, sistem yang seharusnya menyatukan malah memecah bangsa ini. Pembebasan dalam pilihan berubah menjadi pemaksaan pilihan terjadi karena kita salah memaknai arti demokrasi sesungguhnya. Sebagai bangsa yang bermartabat harusnya kita mampu memaknai demokrasi dengan lebih dewasa.

Damai
Sumber: linkedin

Demokrasi bukanlah alasan untuk memaksakan pilihan dan kemudian ribut bagai ayam aduan. Demokrasi adalah alasan kita untuk saling mengenal, memahami dan mencintai antar saudara sebangsa dan setanah air, untuk indonesia yang harmoni.

Jakarta, Juni 2016

Tags
Show More

Uut AVCD

Uut Avocado 🥑 Mentalist @WhatTheFaedah | Magicomic | TriObie | Digital Man of KurangTerkenal.com

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close